ETIKA PROFESI YANG BERHUBUNGAN
DENGAN ENGINEER
A. Pengertian
Etika Profesi
Etik (atau etika) berasal dari
kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat.
Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh
individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah
dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.Etika merupakan
sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang
menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
Profesi adalah pekerjaan yang
dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang
mengandalkan suatu keahlian. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dijelaskan
bahwa etika profesi dalah keterampilan seseorang dalam suatu pekerjaan utama
yang diperoleh dari jalur pendidikan atau pengalaman dan dilaksanakan secara
kontinu yang merupakan sumber utama untuk mencari nafkah.
Etika profesi adalah sikap
hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan profesional terhadap
masyarakat dengan ketertiban penuh dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka
melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat.
Pengertian Profesionalisme,
Profesional dan Profesi Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya
kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang
tinggi dan berdasarkan rasa keterpanggilan — serta ikrar (fateri/profiteri)
untuk menerima panggilan tersebut — untuk dengan semangat pengabdian selalu
siap memberikan pertolongan kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan ditengah
gelapnya kehidupan (Wignjosoebroto, 1999)
Dengan demikian seorang profesional
jelas harus memiliki profesi tertentu yang diperoleh melalui sebuah proses
pendidikan maupun pelatihan yang khusus, dan disamping itu pula ada unsur
semangat pengabdian (panggilan profesi) didalam melaksanakan suatu kegiatan
kerja. Hal ini perlu ditekankan benar untuk mem bedakannya dengan kerja biasa
(occupation) yang semata bertujuan untuk mencari nafkah dan/ atau kekayaan
materiil-duniawi Dua pendekatan untuk mejelaskan pengertian profesi:
1. Pendekatan berdasarkan Definisi
Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan
yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang
rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan
ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya
penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia,
kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang
dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi
tersebut
.
2. Pendekatan Berdasarkan Ciri
Definisi di atas secara tersirat mensyaratkan pengetahuan formal menunjukkan
adanya hubungan antara profesi dengan dunia pendidikan tinggi. Lembaga
pendidikan tinggi ini merupakan lembaga yang mengembangkan dan meneruskan
pengetahuan profesional. Karena pandangan lain menganggap bahwa hingga sekarang
tidak ada definisi yang yang memuaskan tentang profesi yang diperoleh dari buku
maka digunakan pendekatan lain dengan menggunakan ciri profesi.
Secara umum ada 3 ciri yang
disetujui oleh banyak penulis sebagai ciri sebuah profesi. Adapun ciri itu
ialah:
- Sebuah profesi mensyaratkan
pelatihan ekstensif sebelum memasuki sebuah profesi. Pelatihan ini dimulai
sesudah seseorang memperoleh gelar sarjana. Sebagai contoh mereka yang telah
lulus sarjana baru mengikuti pendidikan profesi seperti dokter, dokter gigi,
psikologi, apoteker, farmasi, arsitektut untuk Indonesia. Di berbagai negara,
pengacara diwajibkan menempuh ujian profesi sebelum memasuki profesi.
- Pelatihan tersebut meliputi
komponen intelektual yang signifikan. Pelatihan tukang batu, tukang cukur,
pengrajin meliputi ketrampilan fisik. Pelatihan akuntan, engineer, dokter
meliputi komponen intelektual dan ketrampilan. Walaupun pada pelatihan dokter
atau dokter gigi mencakup ketrampilan fisik tetap saja komponen intelektual
yang dominan. Komponen intelektual merupakan karakteristik profesional yang
bertugas utama memberikan nasehat dan bantuan menyangkut bidang keahliannya
yang rata-rata tidak diketahui atau dipahami orang awam. Jadi memberikan
konsultasi bukannya memberikan barang merupakan ciri profesi.
- Tenaga yang terlatih mampu
memberikan jasa yang penting kepada masyarakat. Dengan kata lain profesi
berorientasi memberikan jasa untuk kepentingan umum daripada kepentingan
sendiri. Dokter, pengacara, guru, pustakawan, engineer, arsitek memberikan jasa
yang penting agar masyarakat dapat berfungsi; hal tersebut tidak dapat
dilakukan oleh seorang pakar permainan caturmisalnya. Bertambahnya jumlah
profesi dan profesional pada abad 20 terjadi karena ciri tersebut. Untuk dapat
berfungsi maka masyarakat modern yang secara teknologis kompleks memerlukan
aplikasi yang lebih besar akan pengetahuan khusus daripada masyarakat sederhana
yang hidup pada abad-abad lampau. Produksi dan distribusi enersi memerlukan
aktivitas oleh banyak engineers. Berjalannya pasar uang dan modal memerlukan
tenaga akuntan, analis sekuritas, pengacara, konsultan bisnis dan keuangan.
Singkatnya profesi memberikan jasa penting yang memerlukan pelatihan
intelektual yang ekstensif.
Di samping ketiga syarat itu ciri
profesi berikutnya. Ketiga ciri tambahan tersebut tidak berlaku bagi semua
profesi. Adapun ketiga ciri tambahan tersebut ialah:
- Adanya proses lisensi atau
sertifikat. Ciri ini lazim pada banyak profesi namun tidak selalu perlu untuk
status profesional. Dokter diwajibkan memiliki sertifikat praktek sebelum
diizinkan berpraktek. Namun pemberian lisensi atau sertifikat tidak selalu
menjadikan sebuah pekerjaan menjadi profesi. Untuk mengemudi motor atau mobil
semuanya harus memiliki lisensi, dikenal dengan nama surat izin mengemudi.
Namun memiliki SIM tidak berarti menjadikan pemiliknya seorang pengemudi
profesional. Banyak profesi tidak mengharuskan adanya lisensi resmi. Dosen di
perguruan tinggi tidak diwajibkan memiliki lisensi atau akta namun mereka
diwajibkan memiliki syarat pendidikan,
misalnya sedikit-dikitnya bergelar
magister atau yang lebih tinggi. Banyak akuntan bukanlah Certified Public
Accountant dan ilmuwan komputer tidak memiliki lisensi atau sertifikat
- Adanya organisasi. Hampir semua
profesi memiliki organisasi yang mengklaim mewakili anggotanya. Ada kalanya
organisasi tidak selalu terbuka bagi anggota sebuah profesi dan seringkali ada
organisasi tandingan. Organisasi profesi bertujuan memajukan profesi serta
meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Peningkatan kesejahteraan anggotanya
akan berarti organisasi profesi terlibat dalam mengamankan kepentingan ekonomis
anggotanya. Sungguhpun demikian organisasi profesi semacam itu biasanya berbeda
dengan serikat kerja yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya pada kepentingan
ekonomi anggotanya. Maka hadirin tidak akan menjumpai organisasi pekerja
tekstil atau bengkel yang berdemo menuntut disain mobil yang lebih aman atau
konstruksi pabrik yang terdisain dengan baik
- Otonomi dalam pekerjaannya.
Profesi memiliki otonomi atas penyediaan jasanya. Di berbagai profesi,
seseorang harus memiliki sertifikat yang sah sebelum mulai bekerja. Mencoba
bekerja tanpa profesional atau menjadi profesional bagi diri sendiri dapat
menyebabkan ketidakberhasilan. Bila pembaca mencoba menjadi dokter untuk diri
sendiri maka hal tersebut tidak sepenuhnya akan berhasil karena tidak dapat
menggunakan dan mengakses obat-obatan dan teknologi yang paling berguna. Banyak
obat hanya dapat diperoleh melalui resep dokter. sepuluh ciri lain suatu
profesi (Nana 1997) :
- Memiliki fungsi dan signifikasi
sosial
- Memiliki keahlian/keterampilan
tertentu
- Keahlian/keterampilan diperoleh
dengan menggunakan teori dan metode ilmiah
- Didasarkan atas disiplin ilmu yang
jelas
- Diperoleh dengan pendidikan dalam
masa tertentu yang cukup lama
- Aplikasi dan sosialisasi nilai-
nilai profesional
- Memiliki kode etik
- Kebebasan untuk memberikan
judgement dalam memecahkan masalah dalam lingkup kerjanya
- Memiliki tanggung jawab
profesional dan otonomi
- Ada pengakuan dari masyarakat dan
imbalan atas layanan profesinya.
Tiga Watak Profesional Lebih lanjut
Wignjosoebroto [1999] menjabarkan profesionalisme dalam tiga watak kerja yang
merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian “jasa profesi” (dan bukan
okupasi) ialah
- bahwa kerja seorang profesional
itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi
yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan
imbalan upah materiil;
- bahwa kerja seorang profesional
itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai
melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang, ekslusif dan berat;
- bahwa kerja seorang profesional —
diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral — harus menundukkan diri pada
sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati
bersama didalam sebuah organisasi profesi.
Ketiga watak kerja tersebut mencoba
menempatkan kaum profesional (kelompok sosial berkeahlian) untuk tetap
mempertahankan idealisme yang menyatakan bahwa keahlian profesi yang dikuasai
bukanlah komoditas yang hendak diperjual-belikan sekedar untuk memperoleh
nafkah, melainkan suatu kebajikan yang hendak diabdikan demi kesejahteraan umat
manusia.
Kalau didalam peng-amal-an profesi
yang diberikan ternyata ada semacam imbalan (honorarium) yang diterimakan, maka
hal itu semata hanya sekedar “tanda kehormatan” (honour) demi tegaknya
kehormatan profesi, yang jelas akan berbeda nilainya dengan pemberian upah yang
hanya pantas diterimakan bagi para pekerja upahan saja.
Siapakah atau kelompok sosial
berkeahlian yang manakah yang bisa diklasifikasikan sebagai kaum profesional
yang seharusnya memiliki kesadaran akan nilai-nilai kehormatan profesi dan
statusnya yang sangat elitis itu? Apakah dalam hal ini profesi keinsinyuran
bisa juga diklasifikasikan sebagai bagian dari kelompok ini? Jawaban terhadap
kedua pertanyaan ini bisa mudah-sederhana, tetapi juga bisa sulit untuk
dijawab. Terlebih-lebih bila dikaitkan dengan berbagai macam persoalan, praktek
nyata, maupun penyimpangan yang banyak kita jumpai didalam aplikasi pengamalan
profesi
di lapangan yang jauh dari idealisme
pengabdian dan tegak nya kehormatan diri (profesi). Pada awal pertumbuhan
“paham” profesionalisme, para dokter dan guru — khususnya mereka yang banyak
bergelut dalam ruang lingkup kegiatan yang lazim dikerjakan oleh kaum padri
maupun juru dakhwah agama — dengan jelas serta tanpa ragu memproklamirkan diri
masuk kedalam golongan kaum profesional. Kaum profesional (dokter, guru dan
kemudian diikuti dengan banyak profesi lainnya) terus berupaya menjejaskan
nilai-nilai kebajikan yang mereka junjung tinggi dan direalisasikan melalui
keahlian serta kepakaran yang dikembangkan dengan berdasarkan wawasan
keunggulan.
Sementara itu pula, kaum profesional
secara sadar mencoba menghimpun dirinya dalam sebuah organisasi profesi (yang
cenderung dirancang secara eksklusif) yang memiliki visi dan misi untuk menjaga
tegaknya kehormatan profesi, mengontrol praktek-praktek pengamalan dan
pengembangan kualitas keahlian/ kepakaran, serta menjaga dipatuhinya kode etik
profesi yang telah disepakati bersama.
Etika disebut juga filsafat moral adalah
cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak
mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus
bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma.
Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma
hukum, norma moral, noprma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal
dari hukum dan perundang-undangan,norma agama berasal dari agama sedangkan
norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun berasal dari kehidupan
sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika.
Etika dan etiket, Etika
berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Dalam bahasa
Inggeris dikenal sebagai ethics dan etiquette.
Antara etika dengan etiket terdapat
persamaan yaitu:
(a) etika dan etiket menyangkut
perilaku manusia. Istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai
binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket.
(b) Kedua-duanya mengatur perilaku
manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan
demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilkukan.
Justru karena sifatnya normatif maka kedua istilah tersebut sering
dicampuradukkan.
Adapun perbedaan antara etika dengan
etiket ialah:
(a) etiket menyangkut cara melakukan
perbuatan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang
diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu. Misalnya dalam
makan, etiketnya ialah orang tua didahulukan mengambil nasi, kalau sudah
selesai tidak boleh mencuci tangan terlebih dahulu. Di Indonesia menyerahkan
sesuatu harus dengan tangan kanan. Bila dilanggar dianggap melanggar etiket.
Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma
tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan
boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
(b) Etiket hanya berlaku untuk
pergaulan. Bila tidak ada orang lain atau tidak ada saksi mata, maka etiket
tidak berlaku. Misalnya etiket tentang cara makan. Makan sambil menaruh kaki di
atas meja dianggap melanggar etiket dila dilakukan bersama-sama orang lain.
Bila dilakukan sendiri maka hal tersebut tidak melanggar etiket. Etika selalu
berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan
walaupun pemiliknya sudah lupa.
(c) Etiket bersifat relatif. Yang
dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam
kebudayaan lain. Contohnya makan dengan tangan, bersenggak sesudah makan. Etika
jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”,
“jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat
ditawar-tawar.
(d) Etiket hanya memadang manusia
dari segi lahirian saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam.
Penipu misalnya tutur katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat
memegang etiket namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika
tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap
etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.
Etika dan ajaran moral
Etika perlu dibedakan dari moral.
Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada
sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup.
Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang
bernilai serta kewajiban manusia.
Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai
dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral.
Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis,
mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral
melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya).
Fungsi etika
Etika tidak langsung membuat manusia
menjadi lebih baik, itu ajaran moral, melainkan etika merupakan sarana untuk
memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang
membingungkan.
Etika ingin menampilkan ketrampilan
intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.
Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana
pluralisme. Pluralisme moral diperlukan karena:
(a) pandangan moral yang
berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama yang hidup
berdampingan;
(b) modernisasi membawa perubahan
besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang
pandangan moral tradisional;
(c) berbagai ideologi menawarkan
diri sebagai penuntun kehidupan, masing-masing dengan ajarannya sendiri tentang
bagaimana manusia harus hidup.
Etika secara umum dapat dibagi
menjadi etika umum yang berisi prinsip serta moral dasar dan etika khusus atau
etika terapan yang berlaku khusus. Etika khusus ini masih dibagi lagi menjadi
etika individual dan etika sosial. Etika sosial dibagi menjadi:
(1) Sikap terhadap sesama;
(2) Etika keluarga
(3) Etika profesi misalnya etika
untuk pustakawan, arsiparis, dokumentalis, pialang informasi
(4) Etika politik
(5) Etika lingkungan hidup serta
(6) Kritik ideologi Etika
adalah filsafat atau pemikiran kritis rasional tentang ajaran moral sedangka moral
adalah ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap,
kewajiban dsb. Etika selalu dikaitkan dengan moral serta harus dipahami
perbedaan antara etika dengan moralitas.
Moralitas
Ajaran moral memuat pandangan
tentang nilai dan norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia.
Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia. Norma moral adalah tentang
bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Ada
perbedaan antara kebaikan moral dan kebaikan pada umumnya. Kebaikan moral
merupakan kebaikan manusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya
merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja, misalnya sebagai suami
atau isteri, sebagai pustakawan.
Moral berkaitan dengan moralitas.
Moralitas adala sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket
atau sopan santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama
atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber.
Etika dan moralitas
Etika bukan sumber tambahan
moralitas melainkan merupakan filsafat yang mereflesikan ajaran moral.
Pemikiran filsafat mempunyai lima ciri khas yaitu rasional, kritis, mendasar,
sistematik dan normatif. Rasional berarti mendasarkan diri pada rasio atau
nalar, pada argumentasi yang bersedia untuk dipersoalkan tanpa perkecualian.
Kritis berarti filsafat ingin mengerti sebuah masalah sampai ke akar-akarnya,
tidak puas dengan pengertian dangkal. Sistematis artinya membahas langkah demi
langkah. Normatif menyelidiki bagaimana pandangan moral yang seharusnya.
Etika dan agama
Etika tidak dapat menggantikan
agama. Orang yang percaya menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya.
Agama merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama
menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu
memerlukan ketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadar
indoktrinasi. Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut:
(1) Orang agama mengharapkan agar
ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas mendengar bahwa Tuhan memerintahkan
sesuatu, tetapu ia juga ingin mengertimengapa Tuhan memerintahkannya. Etika
dapat membantu menggali rasionalitas agama.
(2) Seringkali ajaran moral yang
termuat dalam wahyu mengizinkan interpretasi yang saling berbeda dan bahkan
bertentangan.
(3) Karena perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan masyarakat maka agama menghadapi masalah moral yang secara
langsung tidak disinggung-singgung dalam wahyu. Misalnya bayi tabung,
reproduksi manusia dengan gen yang sama.
(4) Adanya perbedaan antara etika
dan ajaran moral. Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata
sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena
(5) itu ajaran agama hanya terbuka
pada mereka yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari
semua agama dan pandangan dunia.
Istilah berkaitan Kata etika sering
dirancukan dengan istilah etiket, etis, ethos, iktikad dan kode etik atau kode
etika. Etika adalah ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk.
Etiket adalah ajaran sopan santun yang berlaku bila manusia bergaul atau
berkelompok dengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang manusia
hidup sendiri misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau di tengah hutan.
Etis artinya sesuai dengan ajaran moral, misalnya tidak etis menanyakan usia
pada seorang wanita. Ethos artinya sikap dasar seseorang dalam bidang tertentu.
Maka ada ungkapa ethos kerja artinya sikap dasar seseorang dalam pekerjaannya,
misalnya ethos kerja yang tinggi artinya dia menaruh sikap dasar yang tinggi
terhadap pekerjaannya. Kode atika atau kode etik artinya daftar kewajiban dalam
menjalankan tugas sebuah profesi yang disusun oleh anggota profesi dan mengikat
anggota dalam menjalankan tugasnya.
Etika terbagi atas 2 bidang besar
yaitu etika umum dan etika khusus. Etika umum masih dibagi lagi menjadi prinsip
dan moral dasar etika umum. Adapun etika khusus merupakan terapan etika, dibagi
lagi menjadi etika individual dan etika sosial. Etika sosial yang hanya berlaku
bagi kelompok profesi tertentu disebut kode etika atau kode etik.
Kode etik
Kode etik adalah sistem norma, nilai
dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan
baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik
menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus
dilakukan dan apa yang harus dihindari.
Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa
sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi
perbuatan yang tidak profesional.
Ketaatan tenaga profesional terhadap
kode etik merupakan ketaatan naluriah yang telah bersatu dengan pikiran, jiwa
dan perilaku tenaga profesional. Jadi ketaatan itu terbentuk dari masing-masing
orang bukan karena paksaan. Dengan demikian tenaga profesional merasa bila dia
melanggar kode etiknya sendiri maka profesinya akan rusak dan yang rugi adalah
dia sendiri.
Kode etik bukan merupakan kode yang
kaku karena akibat perkembangan zaman maka kode etik mungkin menjadi usang atau
sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya kode etik tentang euthanasia
(mati atas kehendak sendiri), dahulu belum tercantum dalam kode etik kedokteran
kini sudah dicantumkan.
Kode etik disusun oleh organisasi
profesi sehingga masing-masing profesi memiliki kode etik tersendiri. Misalnya
kode etik dokter, guru, pustakawan, pengacara, Pelanggaran kde etik tidak
diadili oleh pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti
melanggar hukum. Sebagai contoh untuk Ikatan Dokter Indonesia terdapat Kode
Etik Kedokteran. Bila seorang dokter dianggap melanggar kode etik tersebut,
maka dia akan diperiksa oleh Majelis Kode Etik Kedokteran Indonesia, bukannya
oleh pengadilan.
Sifat kode etik profesional
Kode etik adalah pernyataan
cita-cita dan peraturan pelaksanaan pekerjaan (yang membedakannya dari murni
pribadi) yang merupakan panduan yang dilaksanakan oleh anggota kelompok. Kode
etik yang hidup dapat dikatakan sebagai ciri utama keberadaan sebuah
profesi.Sifat dan orientasi kode etik hendaknya singkat; sederhana, jelas dan
konsisten; masuk akal, dapat diterima, praktis dan dapat dilaksanakan;
komprehensif dan lengkap; dan positif dalam formulasinya.
Orientasi kode etik hendaknya
ditujukan kepada rekan, profesi, badan, nasabah/pemakai, negara dan masyarakat.
Kode etik diciptakan untuk manfaat masyarakat dan bersifat di atas sifat
ketamakan penghasilan, kekuasaan dan status.
Etika yang berhubungan dengan
nasabah hendaknya jelas menyatakan kesetiaan pada badan yang mempekerjakan
profesional. Kode etik digawai sebagai bimbingan praktisi. Namun demikian
hendaknya diungkapkan sedemikian rupa sehingga publik dapat memahami isi kode
etik tersebut. Dengan demikian masyarakat memahami fungsi kemasyarakatan dari
profesi tersebut. Juga sifat utama profesi perlu disusun terlebih dahulu
sebelum membuat kode etik. Kode etik hendaknya cocok untuk kerja keras Sebuah
kode etik menunjukkan penerimaan profesi atas tanggung jawab dan kepercayaan
masyarakat yang telah memberikannya
http://risdiono.blogspot.co.id/2012/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html